Tema : Generasi Muda dan Inovasi Produk Ekspor Indonesia
Oleh : Aisyla Najwa Alifyani
Abstrak
Penelitian ini untuk mengetahui sejarah kain sasirangan yang ada di Kalimantan khususnya pada masyarakat Banjar. Artikel ini untuk menunjukkan ke pada dunia tentang perkembangan kain sasirangan yang memiliki arti, makna, dan peran yang sangat penting dalam pembuatan kain sasirangan. Dengan berkembangnya zaman kain sasirangan berkembang sangat pesat dan menjadi ciri khas masyarakat. Kain sasirangan ini juga memiliki berbagai macam ukuran, motif, dan warna yang sangat unik sehingga dapat menjadikan pendukung perekonomian masyarakat banjar di Kalimantan Selatan. Inovasi kain sasirangan dapat dikenal baik dalam negeri maupun luar negeri, sehingga selain kita menjaga marwah kebudayaan kita juga memperkenalkan fesyen Indonesia di kancah dunia.
PENDAHULUAN
Kalimantan selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang ibu kotanya adalah Banjarbaru. Banjarbaru sendiri memiliki banyak ciri khas budaya seperti alat musik, tarian, dan kerajinannya, keistimewaan yang unik dari masyarakat Banjarbaru adalah kain sasirangan yang di milikinya. Nama sasirangan sendiri di ambil dari kata sirang yang memiliki arti di ikat atau di jahit dengan tangan dan ditarik dengan menggunakan tali. Kain sasirangan awalnya menggunakan bahan langgundi yang artinya kain tenun kuning, dan pada zaman dulu kain sasirangan hanya di gunakan oleh para petinggi daerah. Kemudian kain laguni berganti nama menjadi kain sasirangan. Dengan perkembangan zaman, kain sasirangan memiliki berbagai macam motif yang menjadi identitas masyarakat Kalimantan selatan.
Sasirangan adalah kain khas suku banjar, Kalimantan Selatan, kain ini memiliki historis yang dapat digunakan sebagai kain adat, baik masyarakat atau kalangan bangsawan suku banjar. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang memiliki arti menjelujur karena saat proses pengerjaannya di lakukan dengan cara menjelujur kemudian kain tersebut di ikat dan di celup. Kain Sasirangan sendiri diwariskan secara turun menurun sejak abad XII, tepatnya sejak lambung mangkurat menjadi patih negara Dipa. Sasirangan di buat pertama kali oleh patih Lambung Mangkurat setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Saat akhir tapa nya ia mendengar suara perempuan yang keluar dari buih perempuan tersebut bernama putri junjung buih yang kelak menjadi ratu daerah ini. Pada saat itu putri junjung buih menginginkan kain langgundi yaitu kain tenun kuning, kain tenun yang di warnai oleh 40 orang wanita yang masih perawan dengan motif padiwaringin
Kain sasirangan pada awalnya dikenal dengan kain pamintan, istilah pamintan adalah permintaan yang artinya permintaan atau permohonan yang memiliki arti selembar kain putih yang di beri motif dan warna tertentu. Kain pamintan mempunyai makna meminta kesehatan, dan kesembuhan dari seorang tabib yang di percai dengan orang zaman dahulu, dengan memakai kain ini di percaya dapat menyembuhkan penyakit sakit kepala, sakit lambung dan penyakit lainnya.
BENTUK BENTUK MOTIF SASIRANGAN
Kain sasirangan memiliki motif dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara manual. Kain sasirangan identik dengan motif jelujur atau garis-garis vertikal, memanjang ke atas dan ke bawah. Dengan berkembangnya zaman banyak motif yang di padukan dengan hiasan-hiasan berbentuk bunga, hewan, dan benda alam yang ada di daerah Kalimantan selatan.
Sasirangan di jadikan beberapa motif antara lain adalah:
1. Kangkung Kaombakan
Terinspirasi dari tumbuhan kangkung yang terkena ombak, motif ini menggambarkan kerukunan dan keharmonisan
2. Bayam Raja
Motif ini pada awalnya menggambarkan status sosial yang tinggi
3. Tampuk Manggis
Melambangkan kejujuran, karena buah manggis yang sudah dikupas akan terlihat jelas beberapa jumlah isinya dari tampuknya.
4. Kulat Karikit
Diambil dari bentuk jamur yang menempel pada pohon dan sulit untuk di lepaskan melambangkan keunikan
Dengan itu motif-motif diatas merupakan contoh dari motif sasirangan yang di ambil dari motif tumbuhan, motif tersebut memiliki ciri khas tersendiri dari motif garis hingga yang lainnya, begitu pula dengan motif hewan dan alam memiliki ciri khas tersendiri.
INOVASI SASIRANGAN UNTUK GENERASI MUDA
Di era yang maju ini banyak generasi muda yang berupaya menjaga sasirangan agar tak hanya di kenal sebagai pakaian adat saja, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang modern, bahkan tidak sedikit juga yang membuat kain sasirangan menjadi tren baju kekinian, dari motif dan bentuk pakaian yang di inovasikan oleh generasi muda sekarang, karna kain sasirangan bukan hanya kain saja, melainkan identitas budaya yang harus disuarakan di era digital. Pentingnya inovasi tanpa harus menghapus nilai filosofis sasirangan, membuat sasirangan dengan model-model kekinian dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal dan itu menjadi salah satu kunci agar anak muda zaman sekarang bangga memakai kain sasirangan
Motif dari kain sasirangan sendiri dapat berubah-rubah baik dalam fungsi, motif, bahkan pola pewarnaannya yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sasirangan merupakan peninggalan yang di wariskan oleh nenek moyang kita ke generasi sekarang.
TANTANGAN GENERASI MUDA TERHADAP KARYA LOKAL
Dengan pesatnya perkembangan tak luput juga dari tantangan yang ada. Tantangan yang harus di perhatikan adalah bagaimana teknik pembuatan sasirangan, yang di dalam prosesnya melibatkan jelujur manual meski pewarnaan telah berubah ke pewarna sintesis(buatan)
Minat generasi muda terhadap sasirangan semakin meningkat karna semakin berkembangnya zaman olahan sasirangan semakin beragam, maka generasi muda sekarang sulit untuk mempelajari cara pembuatan sasirangan dengan cara yang tradisional, mereka hanya ingin menggunakan olahan dari sasirangannya secara langsung tanpa mau mencari tahu bahkan belajar untuk mencoba membuat olahan tersebut secara mandiri.
KESIMPULAN
Awal mulanya kain sasirangan dikembangkan dan di buat oleh para bangsawan banjar yang di turunkan dari zaman ke zaman, awalnya kain sasirangan di sebut bahan langgundi yang memiliki arti kain tenun kuning, dan kain sasirangan hanya dapat di gunakan oleh para bangsawan dan petinggi daerah, kemudian dengan berkembangnya zaman kain langgundi berubah nama menjadi kain sasirangan dan sekarang dapat di gunakan oleh semua orang tanpa harus memandang kasta, dengan berkembangnya zaman kain sasirangan mulai memiliki banyak sekali motif yang terus berkembang, dengan demikian kain sasirangan sangat lah penting karna menjadi ciri khas dan memiliki nilai-nilai tersendiri yang terkandung di dalam setiap motif yang ada
REFERENSI
DGIP. Iwm (2025). “Kain Sasirangan: Tradisi Berpadu dengan Tren Masa Kini”
RRI.co.id. “Pemuda Banua Mendorong Sasirangan Jadi Identitas Kekinian”
KOMPAS.com. “Mengenal Sasirangan Asal Kalimantan Selatan”
